Friday, January 4, 2019

Harga Pokok Produksi


Pengertian Harga Pokok Produksi
            Menurut Supriyono (2000 : 288) : ” Harga Pokok Produksi adalah semua elemen biaya yang diproduksi baik tetap maupun variabel”.
            Menurut Bustami dan Nurlela (2008 : 40) : Penentuan harga pokok adalah bagaimana memperhitungkan biaya kepada suatu produk atau pesanan atau jasa, yang dapat dilakukan dengan cara memasukkan seluruh biaya produksi atau hanya memasukkan unsur biaya produksi variabel saja.”
            Dapat disimpulkan bahwa Harga pokok Produksi adalah penjumlahan seluruh pengorbanan sumber ekonomi yang digunakan untuk mengubah bahan baku menjadi produk. Perhitungan Harga pokok Produk dapat digunakan untuk menentukan harga jual yang akan diberikan kepada pelanggan sesuai dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.

Metode Penentuan Harga Pokok Produksi
Ada dua cara yang digunakan untuk menentukan harga pokok yaitu metode harga pokok pesanan dan metode harga pokok proses.
1.      Metode Harga Pokok Pesanan ( Job Order Costing )
Harga pokok pesanan adalah metode pengumpulan harga  pokok produk dimana biaya dikumpulkan untuk setiap pesanan atau kontrak atau jasa secara terpisah dan setiap pesanan atau kontrak dapat dipisahkan identitasnya.
Metode harga pokok pesanan biasanya digunakan oleh perusahaan – perusahaan yang membuat produksinya berdasarkan pesanan, bentuk dan kualitas produk dibuat sesuai dengan keinginan pemesan seperti industri pesawat terbang, industri galang kapal, industri percetakan, industri mebel, dan industri mesin – mesin pesanan.


Karakteristik perusahaan yang menggunakan metode  harga pokok pesanan adalah :
a)      Perusahaan memproduksi berbagai macam produk sesuai spesifikasi pemesanan dan setiap jenis produk perlu dihitung harga pokok produksinya secara individual.
b)      Untuk meringkas data dan biaya yang dikeluarkan, dibuatkan kartu harga pokok untuk setiap pesanan.
c)      Biaya   bahan   baku   langsung   dan   biaya   tenaga   kerja langsung diperhitungkan secara langsung kepada pesanan yang   bersangkutan berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi, sedangkan biaya overhead pabrik diperhitungkan berdasarkan tarif yang ditentukan terlebih dahulu.

2.      Metode Harga Pokok Proses ( Process Costing )
Menurut Bustami (2008 : 99) : Dalam penentuan biaya proses, semua biaya yang dibebankan ke setiap departemen produksi dapat diiktisarkan dalam laporan biaya produksi untuk masing – masing departemen.”
Ada lima langkah yang perlu dilakukan untuk metode harga pokok proses, (process costing system) yaitu :
a)      Mengidentifikasi masing pusat pengolahan.
b)      Mengakumulasi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik untuk masing – masing pengolahan yang terpisah selama beberapa periode tertentu.
c)      Mengukur keluaran masing – masing pusat pengolahan yang terpisah yang dinyatakan dalam satuan produksi ekuivalen.
d)     Membagi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik dengan satuan ekuivalen untuk  mendapatkan harga pokok produksi satuan masing – masing pusat pengolahan yang terpisah.
e)      Menjumlahkan harga pokok satuan masing – masing pusat pengolahan yang terpisah untuk mendapatkan total harga pokok suatu produk yang sudah jadi sepenuhnya.


Dalam penerapan metode process costing system dalam penentuan harga pokok produksi harus diperhatikan faktor – faktor sebagai berikut :
a)      Jenis dan jumlah produk yang dihasilkan
b)      Jangka Waktu Proses Produksi
c)      Jumlah tahap – tahap operasi atau departemen produksinya
d)     Jumlah departemen dimana bahan harus ditambahkan serta akibat tambahan terhadap produk yang dihasilkan
e)      Ada atau tidaknya produk yang hilang, rusak selama proses produksi berlangsung
f)       Ada atau tidaknya produk dalam proses awal periode
Karakteristik perusahaan yang menggunakan metode harga pokok proses :
a)      Produk yang dihasilkan merupakan produk standar.
b)      Biaya dikumpulkan untuk setiap satuan waktu tertentu, misalnya bulan, tahun, dan sebagainya.
c)      Kegiatan produksi dimulai dengan diterbitkannya perintah produksi berisi produksi standar untuk jangka waktu tertentu.
d)     Tujuan produksi tidak dimaksudkan untuk memenuhi permintaan khusus dari pelanggan tertentu. Produksi dilaksanakan untuk mengisi persediaan yang selanjutnya dijual dengan mengingat permintaan pasar yang sudah diperkirakan terlebih dahulu untuk suatu jangka waktu tertentu.


Pada perusahaan manufaktur diperlukan banyak rekening untuk menentukan harga pokok produksi, tetapi dalam Laporan Rugi-Laba hanya disajikan totalnya saja, sedangkan rinciannya disajikan dalam Skedul Harga Pokok Produksi.

Contoh Skedul Harga Pokok Produksi (merupakan lampiran Laporan Rugi-Laba di atas):

Skedul Harga Pokok Produksi
Tahun 2010

Persediaan Barang Dalam Proses 1 Januari …………………..

Rp   10.000
Ditambah:
Bahan Baku:
     Persediaan 1 Januari ………………..
Rp    5.000
     Ditambah: Pembelian ……………….
100.000
     Tersedia Dipakai …………..………...
      105.000 105
     Dikurangi : Persediaan 31 Desember
9.000
     Bahan Baku Dipakai ………………………………..
Rp 96.000
Biaya Tenaga Kerja Langsung …………………….….
     200.000
Biaya Overhead Pabrik:
     Tenaga Kerja Tidak Langsung ..……
Rp 50.000
     Listrik dan Air …………………………
140.000
     Bahan Habis Pakai Pabrik ………….
30.000
     Penyusutan Gedung Pabrik ………...
120.000
     Penyusutan Mesin …………………...
60.000
     Total Biaya Overhead Pabrik ………………………
400.000
Total Biaya Produksi tahun ini ……………………………………
696.000
Total Biaya Barang Dalam Proses …………………………………
706.000
Dikurangi:
Persediaan Barang Dalam Proses 31 Desember ……………..
18.000
Harga Pokok Produksi ………………………………………………
688.000



Metode Perhitungan Harga Pokok Produksi
            Metode perhitungan harga pokok produksi suatu barang merupakan tujuan pokok akuntansi biaya. Harga pokok produksi tersebut diperoleh melalui pengumpulan biaya – biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan barang tersebut.
Ada tiga metode perhitungan harga pokok produksi yaitu :
1. Metode harga pokok sesungguhnya (actual cost)
Dalam metode ini perhitungan harga pokok produksi per unit berdasarkan biaya bahan baku sesungguhnya, biaya tenaga kerja langsung sesungguhnya, dan biaya overhead pabrik sesungguhnya.
2. Metode harga pokok normal (normal costing)
Pada metode inio, biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung berdasarkan biaya sesungguhnya karena biaya tersebut mudah untuk ditelusuri kepada produk tertentu, dan baiya overhead pabrik menggunakan tarif pembebanan di muka.
Metode ini biasanya digunakan pada metode harga pokok pesanan (job order costing) yang menggunakan pencatatan persediaan produk jadi dengan metode perpetual.
3. Metode harga pokok standar (standard costing)
Dalam metode ini, perusahaan terlebih dahulu menetapkan harga pokok produk per unit dengan menggunakan standar tertentu, sehingga harga pokok produk per unit bukan harga pokok sesungguhnya, tetapi harga pokok yang seharusnya.
Metode harga pokok standar ini biasanya digunakan pada perusahaan yang memproduksi secara massal dan menggunakan pencatatan persediaan produk jadi dengan metode perpetual.

Langkah - langkah penyusunan laporan harga pokok produksi 
1. Menyusun skedul kuantitas
            Skedul kuantitas mencatat unit yang menjadi tanggung jawab dari masing – masing departemen yang menunjukkan arus fisik, mulai dari persediaan awal, unit yang mulai diproses pada periode berjalan, unit yang dikeluarkan baik yang ditransfer maupun yang hilang dan persediaan akhir.
2. Menghitung unit ekuivalen dan biaya per unit
            Dalam proses produksi tertentu, biasanya pada akhir periode terdapat unit yang belum selesai menjadi produk yang lazim disebut persediaan barang dalam proses. Untuk itu, total biaya produksi yang terjadi pada periode itu harus dialokasikan kepada dua jenis persediaan yaitu barang jadi dan barang dalam proses.
            Oleh karena  itu  barang  dalam proses  mengkonsumsi lebih sedikit sumber daya dibandingkan unit selesai, maka pembagian total biaya dengan unit  fisik tidaklah tetap. Oleh karena itu unit   persediaan dalam proses perlu dikonversi kedalam unit yang ekuivalen dengan barang jadi, sehingga diperlukan penaksiran tingkat penyelesaian masing – masing unsur biaya produksi.
3. Pertanggungjawaban biaya departemen
            Biaya yang dibebankan ke departemen menunjukkan penggabungan biaya antara persediaan awal, biaya dari unit yang diterima dari departemen terdahulu dan biaya yang terjadi  pada periode yang dilaporkan.
4. Rekapitulasi biaya
            Total biaya yang dikeluarkan sampai pada suatu departemen akan dialokasikan agar dapat diketahui berapa besar biaya per unit yang ditransfer dan berapa nilai persediaan yang tinggal.
Perbedaan kalkulasi harga pokok pesanan dengan kalkulasi harga pokok proses yaitu :
a)       Pengumpulan biaya
Kalkulasi biaya pesanan mengumpulkan biaya produksi menurut pesanan, sedangkan kalkulasi biaya proses mengumpulkan biaya produksi per periode.
b)       Perhitungan harga pokok persatuan
Kalkulasi biaya pesanan menghitung harga pokok produk per unit yang dihasilkan dengan cara membagi total biaya yang dikeluarkan untuk  pesanan tertentu  dengan  jumlah satuan produk yang  dihasilkan pada pesanan yang bersangkutan. Perhitungan ini dilakukan pada saat pesanan selesai diproduksi.
            
Kalkulasi biaya proses menghitung harga pokok per satuan dengan cara membagi total biaya produksi yang dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah unit produk yang dihasilkan pada  periode yang bersangkutan. Perhitungan ini dilakukan setiap satuan periode, biasanya akhir bulan.

Tujuan Perhitungan Harga Pokok Produksi
Menurut Kardinata (2000 : 80) ” Perhitungan harga pokok dalam produksi dilakukan untuk setiap tahapan proses produksi.”
Adapun tujuan perhitungan harga pokok produksi adalah :
1.      Pengendalian biaya
          Tujuan penentuan harga pokok produksi adalah untuk mengawasi biaya–biaya yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Suatu pengawasan  berarti  mencegah  terjadinya penyimpangan yang akan menyebabkan perusahaan tidak berjalan dengan efisien. Dengan adanya perhitungan harga pokok untuk produk, akan diketahui biaya – biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut, sehingga pada masa yang akan datang, biaya tersebut dapat dievaluasi agar biaya dapat digunakan secara efektif dan efisien.
2. Penetapan harga jual
            Harga pokok produksi per unit adalah merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan harga jual. Dalam hal penentuan  harga jual per unit, maka harga pokok produksi per unit harus diketahui dan perusahaan juga harus dapat menaksir biaya lain yang akan terjadi dalam hubungannya dengan produk serta laba yang diinginkan sehingga harga jual per unit dapat ditetapkan. Harga produk yang akan dijual harus diatas harga pokok produksi per unit sehingga laba dapat dicapai.
3. Perencanaan dan Pengukuran Prestasi
            Umumnya sebelum operasi perusahaan dimulai akan dibuat terlebih dahulu suatu perencanaan mengenai kegiatan – kegiatan yang akan dilakukan. Perencanaan ini dinyatakan dalam anggaran yaitu suatu rencana menyeluruh terhadap kegiatan perusahaan dan dinyatakan dalam bentuk kuantitatif per unit moneter untuk jangka waktu tertentu. Dari laporan harga pokok produksi akan diketahui bagaimana kinerjja dari para karyawan dalam menghasilkan suatu produk. Misalnya untuk menghasilkan suatu produk dengan kualitas tertentu, apakah sesuai dengan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut. Apabila perusahaan dapat memenuhi keinginan dari masyarakat atau konsumen, kemungkinan untuk pencapaian laba akan semakin besar.
4. Penilaian persediaan
            Ada beberapa jenis persediaan dalam perusahaan manufaktur, yaitu persediaan barang jadi (produk), persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, persediaan bahan penolong, dan persediaan perlengkapan. Dengan adanya laporan harga pokok produksi dapat diketahui berapa banyak persediaan dari masing – masing jenis persediaan tersebut.
Selain tujuan – tujuan tersebut ada beberapa lagi tujuan penetapan harga pokok produksi yaitu :
a)       Alat perencanaan laba sehingga dapat diketahui berapa laba yang akan diperoleh dan pada tingkat harga berapa dan unit berapa tercapai break event point atau titik pulang pokok.
b)       Membantu manajemen untuk mengambil keputusan khusus seperti keadaan pasar, pengadaan pesanan atau perluasan produk.
c)       Penerapan Metode Process Costing System dalam Penentuan Harga Pokok Produksi
Laporan biaya produksi setiap departemen memiliki format yang beragam, dengan informasi menunjukkan :
a)       Skedul kuantitas, memuat informasi produk dalam proses awal, produk masuk proses pada periode bersangkutan, produk selesai yang ditransfer ke departemen berikutnya atau gudang, produk dalam proses akhir, produk hilang, produk rusak, dan produk cacat.
b)       Biaya dibebankan, memuat informasi biaya produk dalam proses awal, biaya yang dibebankan dari departemen sebelumnya, biaya dibebankan periode bersangkutan, unit ekuivalen, dan biaya per unit masing – masing elemen biaya.
c)       Pertanggungjawaban biaya, memuat informasi biaya yang ditransfer ke departemen berikutnya atau gudang, biaya produk yang hilang akhir proses, biaya produk rusak, biaya produk cacat.

Ada dua metode aliran biaya untuk mengkalkulasi biaya produksi produk dalam proses yaitu :
a. Aliran Biaya Rata – rata Tertimbang
Dengan merata – ratakan biaya penyelesaian persediaan awal produk dalam  proses  periode sebelumnya  dengan  menambahkan  biaya periode berjalan untuk mendapatkan biaya per unit. Unit persediaan  awal menerima biaya per unit yang besarnya sama dengan unit yang baru dimulai dan diselesaikan selama periode bersangkutan, sehingga semua unit yang ditransfer akan memiliki biaya per unit yang sama.
Unit ekuivalen produksi = Produk Selesai + (PDP Akhir x Tingkat Penyelesaian)
Contoh Soal:
            PT X adalah perusahaan pengolahan nanas yang dikemas dalam kaleng untuk dipasarkan didalam negeri, pengolahan dilakukan melalui satu tahapan pengolahan yaitu melalui departemen pengolahan. Pada awal Oktober perusahaan baru mulai beroperasi, dengan mengolah nanas sebanyak 8.000 kg, pada akhir Oktober produk selesai yang ditransfer ke gudang sebanyak 7600 kg, sedangkan yang 400 kg masih dalam proses dengan tingkat penyerapan bahan baku 100%, biaya tenaga kerja 70%,  dan biaya overhead pabrik 75%. Biaya yang dikeluarkan untuk mengolah nanas tersebut adalah : Biaya bahan baku sebesar Rp. 6.000.000,- biaya tenaga kerja Rp.4.728.000,- dan biaya overhead pabrik Rp.3.160.000,-
Diminta :
Susunlah Laporan Biaya Produksi PT X untuk bulan Oktober 2008 !
Penyelesaian :

Kebaikan dari metode ini adalah sederhana, dengan memperlakukan unit pada persediaan awal produk dalam proses sebagai produk periode berjalan, semua unit ekuivalen akan termasuk dalam kategori yang sama pada saat perhitungan biaya per unit. Sedangkan kelemahan metode ini mengurangi keakuratan perhitungan biaya per unit untuk output periode berjalan dan untuk unit pada persediaan awal produk dalam proses. Jika biaya per unit dalam suatu proses relatif stabil dari periode berikutnya, metode rata – rata tertimbang ini cukup akurat. Akan tetapi, jika input pabrikasi meningkat  secara signifikan dari periode satu ke periode lainnya, biaya per unit output saat ini dinyatakan terlalu rendah, dan biaya per unit pada awal produk dalam proses dinyatakan terlalu tinggi. Jika menginginkan keakuratan yang lebih dalam perhitungan biaya per unit, perusahaan sebaiknya menggunakan metode FIFO.

b. Aliran Biaya FIFO (First In First Out)
Aliran biaya ini dilakukan dengan memisahkan biaya per unit yang terdapat pada persediaan awal dari biaya per unit produk yang dimasukkan dan diselesaikan pada suatu periode tertentu. Biaya produk yang ditransfer terdiri dari biaya produk dalam proses awal dari periode sebelumnya, dan biaya produk dari produk yang dimulai dan diselesaikan selama periode berjalan.
Unit   Ekuivalen  Produksi  =  Produk  Selesai  +  (PDP  Akhir  x   Tingkat Penyelesaian) – (PDP Awal x Tingkat Penyelesaian)
Contoh Soal:
Persediaan  awal PDP = 1.000 unit
(Tingkat penyelesaian : 100% bahan baku, 80% biaya konversi) 
Produk  masuk  proses = 38.200 unit
Produk  selesai ditransfer = 38.000 unit 
Persediaan akhir  PDP =   1.200 unit
(Tingkat penyelesaian : 80% bahan baku, 75% biaya konversi)

Bahan baku :
38.000 unit + (1.200 unit x 80%) – (1.000 unit x 100%) = 37.960 unit 
Biaya Konversi (Tenaga Kerja dan BOP)
38.000 unit + (1.200 unit x 75%) – (1.000 unit x 80%)   = 38.100 unit


2 comments:

  1. Mengingatkan masa-masa SMA dulu waktu belajar akutansi.

    Jika ada waktu, silakan mampir ke blog kami: ANEKA CARA BLOG

    Terima kasih.

    ReplyDelete
  2. terimakasih sudah mampir, sukses selalu..

    ReplyDelete